
"Afdolnya, ketua umum PB NU bukan dari kalangan politisi." Itu kata Mas
Karso Wachidi, orang Cilacap, Jawa Tengah. Menurut warga NU yang amat setia
itu, hanya orang yang punya semangat mengembangkan pemberdayaan masyarakat
yang bisa mengubah gerakan NU yang sekarang melempem ini. Masih kata Mas
Karso, selama ini arah gerakan NU lebih berorientasi elitis, mengerucut ke
atas, melayani kepentingan para elite. Padahal, seharusnya gerakan NU
berorientasi populis, melebar ke bawah untuk menyejahterakan umat. Kalau
tidak terjadi perubahan orientasi itu, NU akan tetap seperti sekarang; mati
tidak, hidup juga tidak. Dengan begitu, kondisi warganya akan tetap serba
tertinggal.
"Menjadi orang NU saat ini tidak ada bangga-bangganya, malah sebaliknya,
malu! Sebab, lembaga maupun warga NU sudah tercitra sebagai entitas yang
ketinggalan zaman, terpecah-belah, dan lebih dimainkan untuk mendukung
kepentingan kekuasaan para tokoh dan pemimpinnya. Saya ingin tidak malu lagi
jadi orang NU. Tolong sampaikan perasaan saya ini kepada mereka yang di
atas; percayakan kepemimpinan NU kepada orang yang benar-benar ingin
berkhidmah kepada umat. Orang seperti ini bisa melihat alamat Allah pada
wajah umat yang bodoh, dibodohi, miskin dan dimiskinkan. Dan itu jelas bukan
dari kalangan politisi."
***
Mas Karso adalah warga NU biasa. Kondisi ekonomi keluarganya pas-pasan.
Pekerjaannya pun tidak tetap. Kelebihan Mas Karso hanya pada kesetiaannya
terhadap NU yang luar biasa, tahan banting. Namun, penilaian dan harapannya
tadi tidak mungkin diabaikan. Mas Karso telah mengemukakan dan menggugat
sesuatu yang sangat mendasar. Karena amat mendasar, bila gugatan itu tidak
dipenuhi, NU akan kehilangan masa depan. Dan bisa dipastikan gugatan Mas
Karso sesungguhnya mewakili suara hati banyak warga NU di tingkat akar
rumput yang ingin bangga dan tidak lagi malu menjadi warga nahdliyin.
Menurut alur pikir Mas Karso, kebanggaan menjadi warga NU mungkin terwujud
hanya bila organisasi massa ini meninggalkan orientasi elitis dan berbalik
180 derajat menjadi berorientasi populis atau keumatan. Dengan orientasi
itu, agenda-agenda untuk memenuhi kepentingan dan kebutuhan nyata umat harus
menjadi prioritas utama. Masalah-masalah sosial yang membelit umat seperti
pendidikan, kesehatan, pengembangan ekonomi dan SDM akan menjadi agenda
nomor satu. Pada sisi lain, kegiatan-kegiatan ritual-simbolik yang ternyata
juga menyerap banyak sumber daya umat bisa dikurangi sampai ke titik yang
lebih proporsional.
Tentulah banyak warga nahdliyin yang setuju dengan pikiran Mas Karso,
termasuk saya. Tapi, realitasnya hingga saat ini NU tetap berorientasi
elitis dengan segala akibat negatifnya yang terlihat jelas. Pemenuhan
kebutuhan umat akan sekolah yang baik, rumah sakit, koperasi, pendampingan
di bidang pertanian masih sangat minim. Semua itu gara-gara NU tetap
berorientasi ke atas. Hal tersebut mengingatkan saya kepada ucapan Gus Dur
kepada saya pada sekitar 1996. Saat itu Gus Dur bilang kepada saya, "Bila NU
tidak bisa memberikan manfaat nyata kepada umat dan hanya digunakan untuk
membela kepentingan para elitenya, saya akan mengambil jarak dari
kepengurusan. "
***
Kenyataan yang terbukti membuat NU makin payah ini pernah saya diskusikan
dengan Mas Karso.
"Mas, membalik orientasi NU ke arah kemaslahatan umat memang bagus. Tapi,
apa hal itu mungkin dan tidak akan menjadi retorika belaka?" tanya saya.
"Kenapa tidak mungkin?"
"Mari kita renungkan. Dari namanya saja, NU sudah cenderung elitis. Bukankah
NU berarti kebangkitan para ulama dan ulama adalah kelompok elite di
kalangan umat? Dengan demikian, NU juga milik para ulama. Maka, NU mau
diberi orientasi ke mana pun adalah hak si pemilik. Umat hanya menempati
posisi objek yang harus taat saja. Iya kan?"
Mata Mas Karso terbelalak. Dia mengusap-usap dahi dan wajahnya tampak gagap.
"Sampean benar dan itulah kenyataannya. Tapi, nanti dulu. Dalam hal
keagamaan, umat memang wajib taat kepada pemimpin, dalam hal ini para ulama.
Itu kewajiban umat yang sudah jadi harga mati. Tapi, NU adalah sebuah
organisasi massa. Jadi, kepentingan dan kesejahteraan umat itulah, yang
utama. Dan itu menjadi kewajiban harga mati para pemimpin.
"Jelasnya begini," sambung Mas Karso. "Saya meyakini NU adalah kendaraan
umum buatan para ulama-mukhlisin (ulama yang ikhlas, Red), disopiri para
ulama-mukhlisin untuk mengangkut umat..."
"Ke mana?" potong saya.
"Ya, mestinya bukan ke arah yang lain -kepentingan para pemilik untuk meraih
kekuasaan misalnya- tapi ke arah kemaslahatan umat. Yang dituju oleh NU
mestinya masyarakat nahdliyin yang maju pendidikannya karena dulu para ulama
sudah membangun lembaga tasfirul afkar; yang maju ekonominya karena semangat
nahdlatut tujar, serta yang maju jiwa kebangsaannya karena semangat
nahdlatul wathan. Bila NU dibawa atau dipakai untuk mencapai kekuasaan,
siapa yang membawanya? Ulama atau bukan ulama?"
Saya diam dan senyum.
"Kendaraan NU buatan para ulama-mukhlisin harus diarahkan menuju
kemaslahatan umat," tegas Mas Karso.
"Dan itu hanya mungkin dicapai bila NU dipimpin oleh orang yang bisa
menangis ketika melihat keterbelakangan umat dan pemimpin seperti itu pasti
bukan dari kalangan politisi?" tanya saya mengulang.
Saya melihat Mas Karso mendesah panjang.
"Sebenarnya tidak demikian benar. Politikus, kalau dia juga negarawan, tentu
bisa merasa terharu ketika melihat jutaan umat yang miskin, bodoh, dan
sakit-sakitan. Masalahnya, masih adakah politikus-negarawan saat ini. Tidak!
Politikus Indonesia saat ini adalah kaum yang kemaruk dan manja, pragmatis
semua, dan selalu bermimpi tentang kejayaan diri. Umat dinomorsekiankan. "
"Baik, Mas Karso, saya setuju. Dengan demikian, siapa pilihan sampean untuk
calon rais am dan ketua umum PB NU?"
"Ah, saya kan tidak punya hak memilih. Walaupun begitu, saya punya kriteria.
Yakni itu tadi; siapa saja yang bisa membuat kita tidak lagi merasa malu
menjadi orang NU, silakan memimpin NU dan kita dukung. Mereka haruslah orang
yang bisa melihat kemiskinan dan kebodohan umat sebagai alamat Allah. Dan
kepada falah yang diridai Allah-lah, mereka akan membawa kita," jawab Mas
Karso dengan mata menyala-nyala.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar